h1

Puisi Mangrove karya Tengsoe Tjahjono

August 30, 2010

Hutan bakau ternyata amat menakjubkan. Pertemuan laut dan sungai, air garam dan air tawar menghadirkan jenis tumbuhan yang amat khas yang terbentuk karena proses adaptasi. Bentuk daun, jenis akar, serta jenis binatang di sana amat khas. Khas rawa-rawa, laguna, pantai, muara. Semua itu memberikan inspirasi bagi saya.

Tengsoe Tjahjono

Hutan bakau selalu dilintasi sungai air pasang. Keadaan seperti itulah yang melahirkan bentuk pohon yang khas unik. terutama jenis akarnya.

mangrove: ketika aku tiba

jalan menyempit, langit pagi memilin daun-daun bakau

seperti kaupilin rambutmu sebelum terurai oleh angin

ini bukan jalan setapak kerna beribu jejak menyisakan hidup kemarin

rawa-rawa melebar di kiri kanan, sungai menjalar dari laut

“tak ada kabut, cuaca menggulung tambak oleh warna lumpur”

perahu diterkam senyap dermaga

menanti pejalan tiba dari semua penjuru

air pasang ngirimkan sampah organik ke hulu

busuk oleh waktu

(catet, catetlah, burung-burung kecil itu beterbangan dari jantung)

mangrove: hutan tumbuh di atas rawa-rawa

di rawa-rawa ini air payau mengalir tanpa kecipak

hutan tumbuh di atasnya

hidup selalu tawar dan asin

prisma nebarkan banyak warna

pohon, cabang, sulur akar, daun menjelaga tanah

terbentur-bentur  ombak gelisah

di daratan katulistiwa, guyuran panas tropika

lumpur mengendap di rawa-rawa

melahirkan akar-akar ke udara

rindu oleh jarak, oleh waktu

menguapkan kristal kata-kata

ke dalam sajak legam

sungguh, air tak mengalir memang

hanya akar selalu nemukan cara

menemu udara dan cahaya

mangrove:  kepiting warna-warni

dari rumah lumpur, kepiting warna-warni memuntahkan cahaya

matamu berbinar-binar  membaca

: betapa ajaibnya semesta

tempurung warna biru, supit merah menyala

hidup ialah laut, menakik gelombang bianglala

tempurung warna jeruk, mata meremang hitam

ketika hidup meremuk, matahari tak kan meredam

tempurung coklat tua, kaki-kaki mengabu debur

tiap jejak hendaklah bertanda, dalam tapak slalu bersyukur

dari liang labirin, seekor kepiting membuka jendela

selembar daun ialah tirai yang terkoyak air pantai

diintipnya langkah yang mungkin ketika gerimis merapat di rawa-rawa

mangrove: burung-burung itu

sungguh aku tak mengenali burung-burung itu

hanya cericitnya mendaraskan melodi senyap

petikan gitar yang nyaris tanpa nada

mereka terbang berkelompok-kelompok

dari permadani rumput menyerbu dahan-dahan bakau

dari sepi ke sunyi sebelum tiba di kemah abadi

“tak ada salahnya belajar dari kepak sederhana

tak ada salahnya berkaca pada jelaga rawa-rawa”

mangrove: kelenjar garam pada daun

ketika tubuh diguyur asin lautan, siapa bisa bertahan

terkoyak kita oleh perih pisau, walau tanpa nganga luka

kangen yang menyengat menimbulkan bilur pada jantung

dari bilik ke bilik kita pun berlari mencari aorta jalan bersua

daun-daun bakau perkasa dalam gelombang dan garam

penampangnya menyajikan perisai kelenjar yang perkasa

“seperti gerak angin, pintu mana bisa menghadangnya”

jejak ini basah memang

lalu kita gambar hati di ceruk lumpurnya

mangrove: sungai menjalar di lambungnya

sebuah sungai membelah rimba bakau, air pasang melapangkan air ke hulu

perahu dengan sauh jiwa melintasi pohon-pohon, rimbun belukar,  ular

matahari tidak tumpah di rawa-rawa

lumpur mendangkal melahirkan tombak-tombak akar

“aku suka gelap, bukankah dalam gelap ku kan rindu cahaya”

jemari kita lalu bertaut menghitung jumlah pohonan

sebelum capek menenggelamkan waktu pada ciuman teramat panjang

laut masih terlalu jauh, muara mengabu kabut

bayang kita samar, timbul tenggelam dikepung air payau

kekasih, kenapa selalu kita temukan tempat seasing ini

seasing  gerak angin pada rambutmu

mangrove: tunggu kukembali saat embun membakar pucuk-pucuk bakau

/1/

telah kau redam gelombang dan angin dengan tubuhmu,

jaring-jaring gurita pada jejak samudra

cinta yang lahir dari badai selalu menyisakan lukisan pada pantai

abrasi  dan kikisan pesisir  jadi kisah kemarin

: masa lalu yang kusut membangun sedimen cerita tanpa plot pembuka

burung-burung  yang kehilangan sarang menemukan rumah baru

di kumparan akar yang melilit bakau dari dahan ke pohon-pohon

/2/

namun aku ingin kembali, aku berjanji

belum habis kujejaki pematang-pematang tambak

rumah singgah dan petani yang mencari ikan dengan pancingnya

masih ingin kukagumi jerit hewan pada belantara, juga burung-burung, kera,

ular, dan kepiting penuh warna; debur angin yang mengguyur bakau

sisa hujan semalaman

masih ada sekerat rindu yang terpanggang di kabut api

yang belum sempat kutulis di batu-batu, di jalanan, di paving tak tertata

melumut oleh cuaca

tunggu aku di pucuk sungapan sungai itu

perahu tanpa atap meluncur dari debur hati kelu

(bunga-bunga air memberikan warna keruh pada kayuh)

mangrove: akar-akar nafas

sebatang akar muncul dari pekat lumpur

merebut oksigen dari udara

mereka  berloncatan,

hutan tombak di rawa-rawa

nafas berkilo-kilo menjauh,

mekarkan rabu ke jejak lepuh

jalan selalu ada, bisikmu

cecaplah luka dari pilihan

jalan selalu tersedia, bisikmu

sambutlah gagal sebagai pesta

jalan selalu lapang, bisikmu

terimalah ranjang pada kilau

rimbun akar bangkit dari gelap lumpur,

mencuri waktu semesta

pejalan asing menghirup nafas kota

: pingsan ia di terumbu karang

mangrove: pagar agar tunjang

sepasukan akar berbaris sepanjang-panjang  pantai

badannya legam berkilat menghunuskan seribu pedang

dengarkan, suaranya tak teredam gelombang

menjerit dan meringkik,  seribu perjurit di gigir seribu kuda

angin membawa pertempuran itu ke abad silam

kisah abadi ditulis di kitab-kitab tua

pertemuan air laut dan tawar yang meliat di rawa-rawa

cinta asing yang berkecambah di kelam jelaga

gempuran ombak itu, gempuran ombak itu

koyak di pagar akar-akar tunjang

saat kupinang kau jadi mempelai pagi

akar-akar tunjang melebat di jendela dan pintu depan

mangrove: akar-akar papan

pada laguna, rimba bakau membeku oleh cuaca, rimbun dan kabut

tegak di atas lumpur pasir, perkasa ia oleh gempur ombak

tubuh disangga akar papan, panjang berkelok,

tiang pancang pada gedung pencakar

thalia, berdiri di atas tanah gambut

kaki menegak pada silang lutut

pandanglah mataku, kan kau temukan laut

badai kan berakhir pada tenang gelombang

hidup dalam muara, perjumpaan sungai dan samudra

kita berpusar dan terus berpusar, meliang dalam lingkaran

akar-akar papan terbentang dari ujung ke ujung

kita berlindung pada licin penampang

mangrove dalam jantung

pedro, jika kau pergi bawakan daku sebidang mangrove

jinjing dalam tas ranselmu, dekatkan dengan laptop dan buku-buku diktat

aku ingin menghirup nafas pagi ketika matahari melata di atas hutan bakau

segerombolan burung berebut ranting dalam lagu siul yang sumbang

pedro, jika kau tiba jangan lupa sebidang mangrove dalam saku

pena dan catatan kecil biarkan tak berjarak dengannya

aku rindu menyusuri sungai dengan perahu rumah membelah ladang akar

guguran daun pada air, lukisan absurd yang terus mengalir

pedro, jika kau singgah sebidang mangrove kan kusajikan di meja

kita baca jejak kita di sana: kepiting warna-warni dan rawa-rawa

menebarkan bianglala pada jalan setapak , rindu berjarak

Hutan bakau tumbuh di sepanjang pantai dan sungai air pasang

mangrove: gugur daun tua

daun-daun tua berguguran ke ceruk sungai disurung dari arah hilir ke hulu

sampan-sampan kecil bewarna tanah terapung tanpa nyawa sebelum dikubur pada pusaran

pedro, siapa yang kan gugur di antara kita, namun janganlah cinta

karena cinta adalah udara yang mampu memperpanjang seribu tahun usia

daun-daun tua melayang ke pangkuan rawa-rawa, jatuh

mengurai zat garam jadi tawar di lambung bakau tubuh

pedro, akar-akar nafas dan tunjang merapat pada pasir lumpur

berjalan di antara tambak-tambak, kita tak kan mencapai semak

(“abadi, abadilah, warna cinta pada remang pagi, walau bilik selalu terisi”)

mangrove: tambak-tambak membeku

thalia, tambak kiri-kanan itu, meluas bagai tanah lapang, beku

jangan kau cari lumpur pasir, tanah bergambut, akar-akar bakau

air telah dibiarkan kering oleh matahari

thalia, tak bakal lagi kau dengar cericit burung di ranting dan daun-daun

apalagi kepiting warna-warni dari rumah-rumah lumpur

kera dan ular-ular telah mati tanpa pusara

thalia, ulat tak lagi bertaburan di geliat akar dan batang-atang

tak akan lahir kupu-kupu dengan sayap permata

bulan akan sunyi di atas padang tandus tanpa pohonan

jalan bebas hambatan, gedung pencakar, tempat hiburan, ruang-ruang gelisah

akan bertebaran di penampangnya, cendawan baja yang angkuh, hutan beton yang dingin

cuma lewat mata mereka menyapa, hati tenggelam dalam laut nestapa

thalia, jejak kita lenyap di sulur jalan raya, kecipak mobil, dan riuh televisi

air mata yang bergulir di pipi tak kuasa menyuguhkan mangrove pada sarapan pagi

kita kunyah sepisau senyap ke dalam mulut kita yang makin tandus

mangrove:  dalam perahu melintas sungai dan akar-akar bakau

pedro, sungai ini menuju ke mana, jejak laut tak terbaca dari hilir

rimba akar, daun gugur, mencoklat dibawa alir

aku senang memandang kecipak kepiting dari seberang

angin mendayung gelombang dari jauh, air pasang

perahu melawan arus, deru mesin dari buritan

rambutku menyeka wajah pagi, menebarkan bau hutan

ke lambung perjalanan

pedro, sungai ini begitu asing, remang membelah lautan bakau

mataku melompat dari debur ke batu-batu

terpejam oleh elusan nafas cuaca: aku amat mengenalnya

rawa-rawa ini membangun gairah purba, persetubuhan laut dan sungai

melahirkan lava pijar ke udara, namun tak kan membakar apa-apa

bukankah kita sudah sepakat membangun ruang sepi di dahan-dahan bakau

menghindari kutukan jahat dari penyihir tua ….

mangrove di matamu

/1/

sepagi ini aku melihat mangrove di matamu: sayup dan teduh

rimbun daun menggugurkan kupu-kupu ke pangkuan

sayapnya  warna-warni memulas langit tanpa matahari

kudayung gairah pohonan menembus akar dan belukar

perahu mengapung didorong air pasang dari hilir

cahaya redup di rawa-rawa, batang-batang bakau menegak ke angkasa

kejantanan menerobos liat cuaca, semusim yang lewat

meniadakan kemarau dalam sekejap

/2/

sepagi ini aku melihat mangrove di matamu: senyap dan riuh

hanya desir angin, kersik ranting, persetubuhan hening

sebelum cuaca bunting melahirkan kata-kata

kata-kata? Ya, begitulah, karena setiap gerak dicatat

pada dinding mangrove yang legam membiru

dari penampangnya tergelar taman bunga, tanpa hujan

tanpa gerimis

jemarimu mencakar punggung

deburnya sampai ke jantung

/3/

sepagi ini aku melihat mangrove di matamu: tambak dan bianglala

di pematang kita lepas jejak, berjuta tapak  membekas amat jelas

“ini jejakmu, ini jejakku, ke muara pasti bertemu”

sekawanan burung mengepak dari langit abu-abu, siulnya melodi sepi

hinggap di cabang-cabang bakau, melukis jejak dengan paruhnya

“ini jejakmu, ini jejakku, berjuta tergores di kulit pohonan, jauh kita mengembara.”

/4/

sepagi  ini aku melihat mangrove di matamu: perahu dan sungai

ingin kukayuh biduk itu, melintasi akar-akar bakau dan guguran daun

menemukan ruang rahasia di jantungmu

seorang lelaki duduk di bilik kiri, bilik lain rapat terkunci

di depan jendela perahu berhenti, membaca gelisah waktu

“inilah kuncinya, ambil di bibirku, hanya dengan ciuman mawar”

pada bilik itu sebuah piano melagukan serenade cinta

dari oktaf rendah ke tinggi, kecipak kepiting di rawa-rawa

sungai mendaraskan air, melawati karang dan batu-batu

/5/

sepagi ini aku melihat mangrove di matamu: terang dan hangat

perjumpaan angin dan dahan-dahan melahirkan api di sepanjang garis pantai

“kaulah api itu, membakar jiwa rapuh yang nyaris legam layu”

singgahlah selalu pada rumah pohon

mari kita pandangi akar-akar bakau yang mendaki bukit-bukit

mencapai langit yang dikerumuni kepundan tanda tanya

“sampai di mana.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: